GASTROENTERITIS
1. PENGERTIANGastroenteritis adalah suatu kondisi terjadi kondisi defekasi yang abnormal (lebih dari 3 kali sehari) penurunan jumlah feses (lebih dari 200gr / hari) dan konsistensi feses cair (Smeltzer & Banc 2001 : 1093).
Gastroenteritis adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah tinja yang lebih banyak dari biasanya (normal 100-200 ml per jam tinja), dengan tinja berbentuk cairan atau setengah cair (setengah padat), dapat pula disertai frekuensi defekasi yang meningkat (Kapita Selekta Kedokteran 2001: 501).
Gastroentritis adalah frekuensi buang air besar yang lebih sering dari biasanya dengan konsistensi yang lebih encer (Nursalam, 2005 : 168).
Dari ketiga pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa : Gastroentritis adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya yang disebabkan oleh bakteri, virus dan parasit yang pathogen.
2. ETIOLOGI
1. Factor infeksi : Virus, bakteri dan parasite
2. Factor makanan : Alergi terhadap makanan
3. Factor psikologis : Rasa takut dan cemas
4. Factor mal absorbsi : Lemak, karbohidrat, monosakarida, protein)
5. Gangguan osmotic
6. Gangguan sekresi
7. Gangguan motilitas usus : hiperperistaltik
(Mansjoer, 2001 : 500)
3. PATOFISIOLOGI
Penyebab utama gastroenteritis akut adalah virus (retrovirus, adenovirus, crystoperidium), serta parasite (gardia, lamblia, crystoperidium), pathogen ini menumbuhkan penyakit dan menginfeksi sel-sel menghasilkan enteroksin / ketotoksin yang merusak sel atau melekat pada dinding usus, pada gastroenteritis akut usus halus adalah alat pencernaan yang paling sering terkena. Gastroenteritis ditandai dengan muntah-muntah dan diare yang berakibat kehilangan cairan dan elektrolit yang menimbulkan dehidrasi dan gangguan keseimbangan elektrolit. (Mansjoer, 2001 : 501.Suriadi, 2001 : 85)
Gastroenteritis akut ditularkan melalui rute fekal oral dari orang ke orang. Beberapa kasus ditularkan air dan makanan yang terkontaminasi. Fasilitas perawatan harian yang menimbulkan resiko gastroenteritis aktif akibat rangsangan toksin bakteri terhadap elektrolit kedalam usus halus. Sel mukosa intestinal mengalami iritasi dan mengakibatkan sekresi cairan dan elektrolit mikroorganisme yang masuk akan merusak sel mukosa intestinal sehingga menurunkan area permukaan intestinal. Perubahan kapasitas intestinal untuk mengabsorpsi, cairan dan elektrolit serta bahan-bahan. Ini terjadi pada sindrom mal absorpsi, meningkatkan motilitas usus intestinal. Meningkatnya motilitas dan cepatnya pengosongan pada intestinal merupakan akibat dari gangguan absorpsi dan sekresi cairan dan elektrolit yang berlebihan. Cairan sodium, potassium dan bikarbonat berpindah dari rongga ekstra selluler kedalam tinja, sehingga mengakibatkan dehidrasi kekurangan elektrolit, dapat terjadi asidosis metabolic (Mansjoer, 2001 : 501.Supriadi 2001 : 85).
Iritasi usus oleh suatu pathogen mempengaruhi lapisan mukosa usus yang terjadi produk-produk sekretonik termasuk mucus, iritasi oleh mikroba juga mempengaruhi lapisan otot, sehingga terjadi peningkatan motilitas. Peningkatan motilitas menyebabkan diare.
(Mansjoer, 2001 : 501.Suriadi, 2001 : 85)
4. PATHWAY
5. MANIFESTASI KLINIS
Pasien dengan gastroenteritis akibat infeksi sering mengalami nausea, muntah, nyeri perut sampai kejang perut dimana terjadinya renjatan hipovolemik harus di hindari, kekurangan cairan menyebabkan pasien merasa haus, lidah kering, tulang pipi menonjol, turgor kulit menurun, serta suara menjadi serak, gangguan biokimiawi seperti asidosis metabolic menyebabkan frekuensi pernafasan lebih cepat dan dalam (kusmaul). Bila terjadi renjatan hipovolemik berat maka denyut nadi cepat (lebih dari 120 x / menit), pucat ujung-ujung ekstremitas dingin dan kadang sianosis, kekurangan kalium dapat menimbulkan anuria. Sehingga bila kekurangan cairan tidak segera diatasi dapat timbul penyakit berupa nekrosis tubular akut.
(mansjoer, 2001 : 502)
6. PENATALAKSANAAN
1. Rehidrasi sebagai prioritas utama pengobatan.
Empat hal penting yang perlu diperhatikan adalah :
a. Jenis cairan
Pada gastroenteritis akut yang ringan dapat diberikan oralit. Diberikan ringer laktat, bila tak tersedia dapat diberikan cairan NaCL isotonic ditambah satu ampul Na bikarbonat 7,5% 50 ml.
b. Jumlah cairan
Jumlah cairan yang diberikan sesuai dengan jumlah cairan yang dikeluarkan. Kehilangan cairan tubuh dapat dihitung dengan beberapa cara :
Metoda Pierce yang berdasarkan kedaan klinis :
Derajat dehidrasi Kebutuhan cairan (/ kg BB)
Ringan 5%
Sedang 8%
Berat 10%
Metoda daldiyono, berdasarkan keadaan klinis yang diberikan penilaian/skor
Klinis 1
Rasa haus / muntah 1
Tekanan darah sistolik 60–90 mmHg 2
Tekanan darah sistolik < 60 mmHg 1 Frekuaensi nadi > 120 x / menit 1
Kesadaran apatis 1
Kesadaran somnolen, sopor / koma 2
Frekuensi nafas > 30 x / menit 1
Facies cholerica 2
Vox Cholerica 2
Turgor kulit menurun 1
Washer womans hands 1
Ekstremitas dingin 1
Sianosis 2
Umur 50-60 tahun -1
Umur > 60 tahun -2
Kebutuhan cairan : Skor x 10% x kg BB x 1 liter
15
c. Jalan masuk atau cara pemberian cairan.
Rute pemberian cairan pada orang dewasa dapat dipilih oral atau iv.
d. Jadwal pemberian cairan
Rehidrasisi pada dengan perhitungan kebutuhan cairan berdasarkan metode Daldiyono diberikan pada 2 jam pertama. Selanjutnya dilakukan penilaian kembali status hidrasi untuk memperhitungkan kebutuhan cairan. Rehidrasi diharapkan terpenuhi lengkap pada akhir jam ke-3.
2. Indentifikasi penyebab diare akut karena infeksi.
Secara klinis, tentukan jenis diare koleriform atau disentriform. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan penunjang yang terarah.
3. Terapi simtomatik
Obat anti diare bersifat simtomatik dan diberikan sangat hati-hati atas pertimbangan yang rasional.
4. Terapi definitive
Pemberian edukasi yang tepat sangat penting sebagai langkah pencegahan.
(Mansjoer, 2001 : 502)
7. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Pemerikasaan darah tepi lengkap untuk mengetahui angka leukosit, trombosit, hemoglobin, dan plasma.
b. Pemeriksaan analisis gas darah, elektrolit, ureum, kreatinin, dan berat jenis plasma.
c. Pemeriksaan urin lengkap.
d. Pemeriksaan tinja lengkap dan biakan tinja dari colok dubur untuk mengetahui apakah ada telur cacing, lender, dan darah.
e. Pemeriksaan biakan empedu bila demam tinggi dan dicurigai infeksi sistemik.
f. Pemeriksaan sediaan darah malaria serta serologi Helicobacter jejuni.
(Mansjoer, 2001 :502 )
1. DIAGNOSA KEPERAWATAN MENURUT NIC-NOC 2007
a. Diare berhubungan dengan adanya inflamasi, iritassi atau malabsorpsi usus.
b. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis.
c. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif.
d. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan hilangnya nafsu makan.
e. Hipertermi berhubungan dengan dehidrasi.
f. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan hipertermi.
g. Defisit pengetahuan mengenai penyakit gastroenteritis berhubungan dengan kurang informasi.
DAFTAR PUSTAKA
Wilkinson, M. Judith (2007), Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC, Jakarta : EGC
Mansjoer, Arif, dkk, (2008), Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta : Media Aesculapius
Supriadi dan Rita Yuliani, (2006), Asuhan Keperawatan Penyakit Dalam Edisi 2, Jakarta : Sugeng Seto
Mansjoer, Arif, dkk, (2001), Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta : Media Aesculapius
Nursalam, M.Nurs, dkk, (2005), Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak, Jakarta : Salemba Medika
Tidak ada komentar:
Posting Komentar