Jumat, 14 September 2012

Perspektif Saya Tentang Muhammadiyah

Hari ini, setelah semalam berhasil mendownload ceramah agama dari AA Gym dan beberapa KIAI lainnya yang tidak begitu terkenal, saya mendengarkannya dengan antusias. Awalnya saya menikmati ceramah AA Gym. Ceramah yang dibagi dalam 9 bagian itu begitu menyejukkan saya. Terlepas dari masalah yang pernah mendera beliau, saya sangat menikmati ceramahnya. Bagi saya, masalah pribadi tidaklah mempengaruhi keinginan saya untuk mendengarkan ceramah yang bersangkutan. Dan benar, gaya bahasa beliau yang santun, begitu menyihir dan merasuk dalam hati saya.

Selepas ceramah AA Abdullah Gymanstiar, saya mendengar ceramah seorang kiai lokal jawa timur. Kiai yang berasal dari daerah Bojonegoro tersebut sebenarnya di awal ceramah sudah bagus dan menarik. Penyampaiannya yang diselingi dengan humor sungguh menyegarkan. Ceramah yang berdurasi 95 menit itu mencapai klimak di tengah-tengah ceramah. Dengan kebanggaannya sebagai seorang NU, beliau menghina alasan/landasan Muhammadiyah dalam menjalankan roda oragnisasinya. Sejujurnya hal itulah yang langsung menggerakkan tangan saya untuk menskip ceramah yang masih berjalan kurang dari 45 menit tersebut. Bukan karena saya seorang yang sedari kecil besar di lingkungan Muhammadiyah, tapi saya kurang "sreg" dengan gaya bahasa-nya yang kasar dan kefanatikan yang bisa diartikan lain sama jamaahnya.

Setiap orang mempunyai alasan untuk memilih dia akan meyakin madzhab mana yang akan diikuti. Apakah Madzhab Syafe'i ataukah Maliki atau yang lain. Begitupun dengan muslin di Indonesia, apakah mau ikut NU? Muhammadiyah ataukah yang lain? Silahkan. Ini masalah keyakina hati nurani. Karena itu, meski saya lebih condong memilih dan mengikuti cara dan ajaran Muhammadiyah, saya tak pernah berkeinginan untuk membuka front atau permusuhan dengan organisasi lain. Bagi saya keyakinan tak bisa dipaksakan ataupun diajarkan dengan membuka front permusuhan. Hal ini hanya bisa ditularkan dengan uswahtun khasanah, suri tauladan yang baik. Jadi bagaimana mungkin kita menularkan keyakinan kita ke orang lain, jika dalam menularkannya kita menggunakan gaya bahasa kasar ataupun tingkah yang kurang terpuji. 

Dalam islam sendiri sudah dijelaskan bahwa " di akhir zaman, umat islam akan terpecah menjadi 73 golongan, dan yang akan selamat adalah golongan yang berpegang teguh pada Al Qur'an dan Al-hadists." di salah satu ayat yang lain, ALLAH SWT berfirman yang artinya " Bahwa perbedaan dalam Islam adalah sebuah rahmat ". Dari kedua firman ALLAH SWT tersebut, kita bisa tangkap, bahwa sudah takdir-NYA kita, umat Islam terpecah-pecah dalam golongan, dan masing-masing golongan akan mengaku sebagai yang paling benar di mata masing-masing. Tetapi jika kita kembalikan ke kutipan ayat kedua, bahwa perbedaan itu adalah rahmat-NYA. Rahmat, jika kita mampu memaknai perbedaan itu untuk sama-sama berlomba menuju kebaikan, bukan sibuk saling serang dan saling menjatuhkan.

NU dengan segala ajarannya mempunyai dasar dan dalil yang kuat. Dasar-dasar yang mereka pelajari dari para pendahulu mereka dan diturunkan turun temurun kepada anak cucu dan pengikutnya. Pun dengan Muhammadiyah, mereka mempunyai dasar hukum/dalil yang sama kuatnya. Bagi saya, selama dia masih sesama MUSLIM, saya tak ingin berpolemik dia itu NU/Muhammadiyah/Persis/Thoriqot Nagsabandiyah atau apapun. Karena saya yakin, jika kita Muslim terpecah dan terkotak-kotak dalam kelompok masing-masing, maka kelompok lain di luar Islam merasa menang. Karena perbedaan yang dibesarkan itulah tujuan mereka. Dengan kita terkotak-kotak, dijamin umat islam menjadi macan ompong. Hanya besar di berita, tapi kecil dan kerdil posisi tawarnya.

Saya tak akan berkomentar banyak tentang NU, karena saya hanya tahu NU namanya saja. Saya tak tahu begitu dalam tentang mereka dan ajarannya. Pun dengan ajaran organisasi lain. Meski saya banyak bergaul dengan teman-teman yang terlahir dari keluarga NU ataupun pegiat Tarekat ataupun jamaah Tabligh. Meski rumah saya pernah jadi base camp anggota jamaah tabligh yang sudah malang melintang ke penjuru Dunia. Meski ayah saya awalnya seorang NU sejati. Saya hanya ingin bercerita sedikit yang saya tahu tentang Muhammadiyah, karena memang di sini domain saya bisa komentar, bukan di arela yang lain.

Muhammadiyah, kenapa "melarang Ziarah kubur, terutama untuk wanita". Muhammadiyah sebenarnya tidak melarang warganya untuk Ziarah Kubur. Ziarah Kubur sesungguhnya dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Yang Muhammadiyah khawatirkan hanyalah ekses dari seringnya Ziarah kubur yang tanpa didasari Ilmu. Baik wanita ataupun pria, selama dia masih bernama manusia, biasanya punya kecenderungan untuk bersedih yang berlebihan saat melihat makam orang-orang terkasih, terutama yang meninggalkan berjuta kenangan mendalam. Mereka cenderung untuk lupa diri begitu menatap nisan, bersedih yang berlebihan dalam Islam adalah hal yang diharamkan. Nah untuk mengurangi kemungkinan itu, maka Muhammdiyah "melarang" warganya  untuk ZIARAH KUBUR, jika hanya untuk bersedih yang berlebihan dan tidak bisa mengikhlaskan kepergian sang ahli kubur. Jika murni untuk mendoakan sang ahli kubur, Muhammadiyah tidak pernah melarang.  

Di dalam ajaran Islam, bukankah diajarkan bahwa kita tidak boleh terlarut dalam kesedihan yang berlebihan saat ditinggal oleh orang-orang yang terkasih. Itu kenapa saat saya kehilangan salah satu pakde/uwak, saya tetap tegar dan melarang saudara sepupu saya untuk menangis berlebihan. Bahkan saat itu saya sibuk ke wartel dam saudara yang lain untuk menyampaiakn kabar duka. Setelah itu, dengan perasaan sedih yang masih menghinggapi hati, saya siapkan apa yang dibutuhkan untuk prosesi pemakaman. Mulai menyiapkan air, kembang dan berkoordinasi dengan pihak tetangga dan hadai taulan yang membantu proses pemakaman, agar jenazah bisa sesegera mungkin dimakamkan. Jadi "larangan Ziarah kubur" dalam Muhammadiyah yang saya hayati sebenarnya hanya istilah, pada kenyataannya saya masih sowan ke makam. Mendoakan kakek dan leluhur. Tapi saat ziarah, saya kesampingkan kesedihan yang mendalam, Saya hanya bersedih sekedarnya. Lebih memaknai, saat kita di makam, selalu ingat bahwa saya akan kembali ke haribaan ALLAH SWT. Itulah makna yang saya tangkap dalam "larangan ziarah kubur" Muhammadiyah = agar kita tidak larut dalam kesedihan yang berlebih. Daripada terlalu bersedih, lebih baik kita sebisa mungkin segera memperkuat hati dan selalu memanjatkan do'a untuk mereka yang telah pergi.

Masalah tahlil, Muhammadiyah melarang atas dasar adanya "beberapa kasus" yang malah memberatkan keluarga yang sedang berduka. Saat kita bertahlil untuk almarhum, pihak keluarga almarhum yang masih belum benar-benar pulih dari kehilangan, sudah harus mempersiapkan segala sesuatu untuk memberi " jamuan " pada peserta Tahlil. Bahkan saat almarhum kakek meninggal, saat itu ayah sebagai ketua pemuda ansor masih melakukan tahlil. Saat tahlil 7 hari almarhum, ada beberapa orang yang nyeletuk " Ah tahlil di sini makanannya hanya ini-ini saja. Mana daging sapinya? " kalimat itulah yang membuat ayah tersengat. Saat 40 hr almarhum, ayah sembelihkan seekor sapi untuk menjamu mereka yang ikut tahlil. Dan sejak saat itulah, ayah kurang setuju jika tahlil hanya menimbulkan ekses memberatkan keluarga almarhum. Jika hanya cukup disuguhi sesuatu sesuai kemampuan keluarga almarhum, ayah masih mau dan tetap memimpin jamaah untuk tahlil.

Masalah " Ajakan kembali ke Al Qur,an dan Hadists " Muhammadiyah memang selalu menggalkkan hal itu. Bukan tidaj mengakui ajaran dari berbagai pemikir Islam yang berjasa mengembangkan ISlam. Hal ini semata suatu ajakan agar kita tidak mengkultuskan kiai A atau Kiai B, hingga terlupa untuk selalu kembali ke Al Qur'an dan Al Hadists jika ada masalah yang menimbulkan pertentangan. Boleh kita mengikuti ajaran kiai A ataupun siapapun, tapi saat ada perbedaan penafsiran suatu kasus, kita kembalikan lagi ke Al Qur'an dan Hadists. Jangan karena menganggap ajaran Kiai-nya selalu benar, sedang yang lain salah. Padahal kita tahu di dalam Al Qur'an dan Hadist, hal yang gamblang mengenai perbedaan itu sudah dibahas.

Bukan rahasia lagi, jika dalam beberapa kasus, kiai membuat fatwa pada pengikutnya, meski dia tahu dalil dalam Al Qur'an sudah jelas-jelas melarang hal itu. Misalnya kasus ROKOK. Karena sebagian kiai adalah pecandu rokok, maka saat ada wacana "pengharaman Rokok ", beberapa kiai menyatakan rokok itu makruh. Padahal jelas sekali jika rokok itu menyebabkan ketergantungan serta lebih banyak mendatangkan MUDHARAT, daripada manfaatnya. Dan hal yang membuat ketagihan dan mendatangkan MUDHARAT, seharusnya diharamkan. Kita bisa belajar pada ulama CHINA yang tegas menyatakan ROKOK HARAM, meski ada beberapa kiai di sana yang sebelum fatwa itu muncul adalah pecandu rokok. Namun setelah fatwa muncul, mereka segera berusaha menghentikan kecanduannya.

Dulu pernah ada perumpamaan belajar Al Qur'a dan hadists Versi Muhammadiyah dan NU. Orang NU mengumpakannya seperti orang minum air panas dari teko. Kitab karya para pemikir islam menurut mereka seperti gelas yang digunakan untuk menuangkan minuman. Mereka berkata apa jadinya jika seseorang langsung meminum air panas dari tekonya, yang ada akan melepuh mulutnya. Dan itu diumpamakan seperti ajaran Muhammadiyah yang lebih mengutamakan untuk mengembalikan semuanya pada Al Qur'an dan hadists. Sementara NU diumpamakan seperti seseorang yang meminum air dari teko melalui gelas untuk mendinginkannya. Di sini ada semacam kesalahpahaman. Muhammadiyah masih berpegang pada ajaran ulama-ulama sebelumnya, namun saat ada beda pendapat dalam menafsirkan sesuatu, Muhammadiyah lebih cenderung mengembalikannya ke Al Qur'an dan hadists, untuk sama-sama dikaji, kemudian disimpulkan untuk menemukan titik tengah. Tidak melulu berpatokan pada apa kata KIAI.
Masalah adab berdo'a. Muhammadiyah menganjurkan untuk langsung ke ALLAH, tanpa melalui para sahabat, tabi'it-tabi'in dan alim ulama sesudahnya. Kita bisa menganalogikan dengan kasus seseorang yang sedang dihadapkan dengan meja pengadilan. Orang yang sudah meninggal, itu seperti orang yang sedang menghadapi sidang pengadilan, yakni pengadilan di alam barzagh. Bagaimana orang yang sedang sibuk memikirkan sidang yang menantinya, membantu seseorang untuk memohon sesuatu pada ALLAH. Sementara sidang atas amal-ibadah mereka saja belum tentu mereka tangani. Sebaik apapun manusia, sealim apapun seorang kiai, pasti pernah berbuat salah. Dan salah itu harus mulai mereka pertanggung jawabkan, ketika orang terakhir yang mengantar jenazah melangkah 7 langkah dari makam. Bagaimana mereka mau mendoakan kita, sedang mereka sendiri sibuk menjawab pertanyaan malaikat kubur.

Perumpamaan orang berdo'a dengan orang yang tenggelam di sungai, sangat tidak relevan. Ini masalah yang berbeda, meski sama-sama meminta bantuan. Kecenderungan masyarakat awam adalah menganggap suatu media untuk berdo'a sebagai zat yang mengabulkan do'a. Dan hal ini kembali ke masalah ziarah kubur untuk berdo'a. Bukankah banyak kasus, orang awam yang berziarah dan berdo'a di makam para wali atau kiai yang dituakan. Saat do'anya dikabulkan, biasanya mereka menyebut " ini semua karena berdo'a di makam wali A atau Kiai ini " bukan " Ini semua berkat ALLAH, Doa saya dikabulkan. " inilah yang ditakutkan Muhammadiyah. Begitupun dengan orang tenggelam atau sakit, saat berhasil selamat " Terima kasih atas bantuannya, kalau bukan karenamu, mungkin saya sudah mati " Hal ini menafikan adanya campur tangan ALLAH SWT dalam menyelamatkan kita. manusia yang membantu, hanya media/perantara, bukan penyelamat.

Hal-hal di atas adalah sebagian keresahan yang saya rasakan dari banyak kejadian yang saya alami. Perbedaan NU-Muhammadiyah serta organisasi lainnya hanya pada tingkatan AMALIAH-nya saja, bukan pada tataran TAUHID, jadi seyogyanya para pemuka NU-Muhammadiyah tidak perlu memperuncing. Kenapa kita tidak bisa bergandengan tangan, untuk saling introspeksi diri dan menguatkan demi ISLAM. Seprti di bagian awal " Perbedaan dalam ISLAM adalah Rahmat ", tinggal bagaimana kita menyikapinya. Daripada sibuk menyamakan hal itu, kenapa gak kita berdakwah ke dalam, memperkuat sendi-sendi dalam kehidupan beragama kita, agar kita tidak makin jauh terpecah belah.

" Kita hanya tahu golongan A itu kulitnya saja, pun dengan Golongan A hanya tanhu golongan B kulit luarnya. Kenapa kita berselisih sesutau yang masih satu tauhid. Bukankah masih banyak orang yang segolongan dengan kita, kurang dalam memahami golongan yang dianutnya" mari bersatu untuk saling mendalami AL ISLAM. Beda faham, selama sholat masih menghadap kiblat, membaca apa yang diajarkan rasul dan mengakui bahwa rasulullah Muhammad sebagai nabi dan rasul akhir zaman adalah satu saudara, saudara seiman.

Bagaimana kita mau berukhuwah dengan pemeluk agama lain, sementara sesama muslim saja, ukhuwah islamiyahnya lemah. Masih suka mencap golongan A KAFIR, Golongan B Munafik. Itu semua adalah domain KUASA ALLAH. DOMAIN KITA HANYALAH BERUSAHA BELAJAR DAN MENGAMALKAN APA YANG KITA YAKINI, BUKAN MENGHAKIMI KEYAKINAN KELOMPOK LAIN.

Menurut AA GYM " DAKWAH UNTUK MENGAGUNGKAN ALLAH SWT, BUKAN MENGAGUNGKAN DIRI/MADZHAM-nya ATAUPUN PESANTRENNYA. Kalau MAU DAKWAH, JANGAN LAGI MENGAGUNGKAN DIRI, MEMPERKAYA DIRI dan segala sesuatu yang bersifat duniawi. "

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PTC Yang Terbukti Membayar

pencarian