Hari ini, setelah semalam berhasil
mendownload ceramah agama dari AA Gym dan beberapa KIAI lainnya yang
tidak begitu terkenal, saya mendengarkannya dengan antusias. Awalnya
saya menikmati ceramah AA Gym. Ceramah yang dibagi dalam 9
bagian itu begitu menyejukkan saya. Terlepas dari masalah yang pernah
mendera beliau, saya sangat menikmati ceramahnya. Bagi saya, masalah
pribadi tidaklah mempengaruhi keinginan saya untuk mendengarkan ceramah
yang bersangkutan. Dan benar, gaya bahasa beliau yang santun, begitu
menyihir dan merasuk dalam hati saya.
Selepas ceramah AA Abdullah Gymanstiar, saya mendengar ceramah seorang kiai lokal jawa timur. Kiai yang berasal dari daerah Bojonegoro tersebut sebenarnya di awal ceramah sudah bagus dan menarik. Penyampaiannya yang diselingi dengan humor sungguh menyegarkan. Ceramah yang berdurasi 95 menit itu mencapai klimak di tengah-tengah ceramah. Dengan kebanggaannya sebagai seorang NU, beliau menghina alasan/landasan Muhammadiyah dalam menjalankan roda oragnisasinya. Sejujurnya hal itulah yang langsung menggerakkan tangan saya untuk menskip ceramah yang masih berjalan kurang dari 45 menit tersebut. Bukan karena saya seorang yang sedari kecil besar di lingkungan Muhammadiyah, tapi saya kurang "sreg" dengan gaya bahasa-nya yang kasar dan kefanatikan yang bisa diartikan lain sama jamaahnya.
Setiap orang mempunyai alasan untuk
memilih dia akan meyakin madzhab mana yang akan diikuti. Apakah Madzhab
Syafe'i ataukah Maliki atau yang lain. Begitupun dengan muslin di
Indonesia, apakah mau ikut NU? Muhammadiyah ataukah yang lain? Silahkan.
Ini masalah keyakina hati nurani. Karena itu, meski saya lebih condong
memilih dan mengikuti cara dan ajaran Muhammadiyah, saya tak pernah
berkeinginan untuk membuka front atau permusuhan dengan organisasi lain.
Bagi saya keyakinan tak bisa dipaksakan ataupun diajarkan dengan
membuka front permusuhan. Hal ini hanya bisa ditularkan dengan uswahtun
khasanah, suri tauladan yang baik. Jadi bagaimana mungkin kita
menularkan keyakinan kita ke orang lain, jika dalam menularkannya kita
menggunakan gaya bahasa kasar ataupun tingkah yang kurang terpuji.
Dalam islam sendiri sudah dijelaskan bahwa " di akhir zaman, umat islam akan terpecah menjadi 73 golongan, dan yang akan selamat adalah golongan yang berpegang teguh pada Al Qur'an dan Al-hadists." di salah satu ayat yang lain, ALLAH SWT berfirman yang artinya " Bahwa perbedaan dalam Islam adalah sebuah rahmat ". Dari kedua firman ALLAH SWT tersebut, kita bisa tangkap, bahwa sudah takdir-NYA kita, umat Islam terpecah-pecah dalam golongan, dan masing-masing golongan akan mengaku sebagai yang paling benar di mata masing-masing. Tetapi jika kita kembalikan ke kutipan ayat kedua, bahwa perbedaan itu adalah rahmat-NYA. Rahmat, jika kita mampu memaknai perbedaan itu untuk sama-sama berlomba menuju kebaikan, bukan sibuk saling serang dan saling menjatuhkan.
NU dengan segala ajarannya
mempunyai dasar dan dalil yang kuat. Dasar-dasar yang mereka pelajari
dari para pendahulu mereka dan diturunkan turun temurun kepada anak cucu
dan pengikutnya. Pun dengan Muhammadiyah, mereka mempunyai dasar
hukum/dalil yang sama kuatnya. Bagi saya, selama dia masih sesama
MUSLIM, saya tak ingin berpolemik dia itu
NU/Muhammadiyah/Persis/Thoriqot Nagsabandiyah atau apapun. Karena saya
yakin, jika kita Muslim terpecah dan terkotak-kotak dalam kelompok
masing-masing, maka kelompok lain di luar Islam merasa menang. Karena
perbedaan yang dibesarkan itulah tujuan mereka. Dengan kita
terkotak-kotak, dijamin umat islam menjadi macan ompong. Hanya besar di
berita, tapi kecil dan kerdil posisi tawarnya.
Saya tak akan berkomentar banyak
tentang NU, karena saya hanya tahu NU namanya saja. Saya tak tahu
begitu dalam tentang mereka dan ajarannya. Pun dengan ajaran organisasi
lain. Meski saya banyak bergaul dengan teman-teman yang terlahir dari
keluarga NU ataupun pegiat Tarekat ataupun jamaah Tabligh. Meski rumah
saya pernah jadi base camp anggota jamaah tabligh yang sudah malang
melintang ke penjuru Dunia. Meski ayah saya awalnya seorang NU sejati.
Saya hanya ingin bercerita sedikit yang saya tahu tentang Muhammadiyah,
karena memang di sini domain saya bisa komentar, bukan di arela yang
lain.
Muhammadiyah, kenapa "melarang
Ziarah kubur, terutama untuk wanita". Muhammadiyah sebenarnya tidak
melarang warganya untuk Ziarah Kubur. Ziarah Kubur sesungguhnya
dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Yang Muhammadiyah khawatirkan
hanyalah ekses dari seringnya Ziarah kubur yang tanpa didasari Ilmu.
Baik wanita ataupun pria, selama dia masih bernama manusia, biasanya
punya kecenderungan untuk bersedih yang berlebihan saat melihat makam
orang-orang terkasih, terutama yang meninggalkan berjuta kenangan
mendalam. Mereka cenderung untuk lupa diri begitu menatap nisan,
bersedih yang berlebihan dalam Islam adalah hal yang diharamkan. Nah
untuk mengurangi kemungkinan itu, maka Muhammdiyah "melarang" warganya
untuk ZIARAH KUBUR, jika hanya untuk bersedih yang berlebihan dan tidak
bisa mengikhlaskan kepergian sang ahli kubur. Jika murni untuk mendoakan
sang ahli kubur, Muhammadiyah tidak pernah melarang.
Di dalam ajaran Islam, bukankah
diajarkan bahwa kita tidak boleh terlarut dalam kesedihan yang
berlebihan saat ditinggal oleh orang-orang yang terkasih. Itu kenapa
saat saya kehilangan salah satu pakde/uwak, saya tetap tegar dan
melarang saudara sepupu saya untuk menangis berlebihan. Bahkan saat itu
saya sibuk ke wartel dam saudara yang lain untuk menyampaiakn kabar
duka. Setelah itu, dengan perasaan sedih yang masih menghinggapi hati,
saya siapkan apa yang dibutuhkan untuk prosesi pemakaman. Mulai
menyiapkan air, kembang dan berkoordinasi dengan pihak tetangga dan
hadai taulan yang membantu proses pemakaman, agar jenazah bisa sesegera
mungkin dimakamkan. Jadi "larangan Ziarah kubur" dalam Muhammadiyah yang
saya hayati sebenarnya hanya istilah, pada kenyataannya saya masih
sowan ke makam. Mendoakan kakek dan leluhur. Tapi saat ziarah, saya
kesampingkan kesedihan yang mendalam, Saya hanya bersedih sekedarnya.
Lebih memaknai, saat kita di makam, selalu ingat bahwa saya akan kembali
ke haribaan ALLAH SWT. Itulah makna yang saya tangkap dalam "larangan
ziarah kubur" Muhammadiyah = agar kita tidak larut dalam kesedihan yang
berlebih. Daripada terlalu bersedih, lebih baik kita sebisa mungkin
segera memperkuat hati dan selalu memanjatkan do'a untuk mereka yang
telah pergi.
Masalah tahlil, Muhammadiyah melarang atas dasar adanya "beberapa kasus" yang malah memberatkan keluarga yang sedang berduka. Saat kita bertahlil untuk almarhum, pihak keluarga almarhum yang masih belum benar-benar pulih dari kehilangan, sudah harus mempersiapkan segala sesuatu untuk memberi " jamuan " pada peserta Tahlil. Bahkan saat almarhum kakek meninggal, saat itu ayah sebagai ketua pemuda ansor masih melakukan tahlil. Saat tahlil 7 hari almarhum, ada beberapa orang yang nyeletuk " Ah tahlil di sini makanannya hanya ini-ini saja. Mana daging sapinya? " kalimat itulah yang membuat ayah tersengat. Saat 40 hr almarhum, ayah sembelihkan seekor sapi untuk menjamu mereka yang ikut tahlil. Dan sejak saat itulah, ayah kurang setuju jika tahlil hanya menimbulkan ekses memberatkan keluarga almarhum. Jika hanya cukup disuguhi sesuatu sesuai kemampuan keluarga almarhum, ayah masih mau dan tetap memimpin jamaah untuk tahlil.
Masalah " Ajakan kembali ke Al
Qur,an dan Hadists " Muhammadiyah memang selalu menggalkkan hal itu.
Bukan tidaj mengakui ajaran dari berbagai pemikir Islam yang berjasa
mengembangkan ISlam. Hal ini semata suatu ajakan agar kita tidak
mengkultuskan kiai A atau Kiai B, hingga terlupa untuk selalu kembali ke
Al Qur'an dan Al Hadists jika ada masalah yang menimbulkan
pertentangan. Boleh kita mengikuti ajaran kiai A ataupun siapapun, tapi
saat ada perbedaan penafsiran suatu kasus, kita kembalikan lagi ke Al
Qur'an dan Hadists. Jangan karena menganggap ajaran Kiai-nya selalu
benar, sedang yang lain salah. Padahal kita tahu di dalam Al Qur'an dan
Hadist, hal yang gamblang mengenai perbedaan itu sudah dibahas.
Bukan rahasia lagi, jika dalam
beberapa kasus, kiai membuat fatwa pada pengikutnya, meski dia tahu
dalil dalam Al Qur'an sudah jelas-jelas melarang hal itu. Misalnya kasus
ROKOK. Karena sebagian kiai adalah pecandu rokok, maka saat ada wacana
"pengharaman Rokok ", beberapa kiai menyatakan rokok itu makruh. Padahal
jelas sekali jika rokok itu menyebabkan ketergantungan serta lebih
banyak mendatangkan MUDHARAT, daripada manfaatnya. Dan hal yang membuat
ketagihan dan mendatangkan MUDHARAT, seharusnya diharamkan. Kita bisa
belajar pada ulama CHINA yang tegas menyatakan ROKOK HARAM, meski ada
beberapa kiai di sana yang sebelum fatwa itu muncul adalah pecandu
rokok. Namun setelah fatwa muncul, mereka segera berusaha menghentikan
kecanduannya.
Dulu pernah ada perumpamaan
belajar Al Qur'a dan hadists Versi Muhammadiyah dan NU. Orang NU
mengumpakannya seperti orang minum air panas dari teko. Kitab karya para
pemikir islam menurut mereka seperti gelas yang digunakan untuk
menuangkan minuman. Mereka berkata apa jadinya jika seseorang langsung
meminum air panas dari tekonya, yang ada akan melepuh mulutnya. Dan itu
diumpamakan seperti ajaran Muhammadiyah yang lebih mengutamakan untuk
mengembalikan semuanya pada Al Qur'an dan hadists. Sementara NU
diumpamakan seperti seseorang yang meminum air dari teko melalui gelas
untuk mendinginkannya. Di sini ada semacam kesalahpahaman. Muhammadiyah
masih berpegang pada ajaran ulama-ulama sebelumnya, namun saat ada beda
pendapat dalam menafsirkan sesuatu, Muhammadiyah lebih cenderung
mengembalikannya ke Al Qur'an dan hadists, untuk sama-sama dikaji,
kemudian disimpulkan untuk menemukan titik tengah. Tidak melulu
berpatokan pada apa kata KIAI.
Masalah
adab berdo'a. Muhammadiyah menganjurkan untuk langsung ke ALLAH, tanpa
melalui para sahabat, tabi'it-tabi'in dan alim ulama sesudahnya. Kita
bisa menganalogikan dengan kasus seseorang yang sedang dihadapkan dengan
meja pengadilan. Orang yang sudah meninggal, itu seperti orang yang
sedang menghadapi sidang pengadilan, yakni pengadilan di alam barzagh.
Bagaimana orang yang sedang sibuk memikirkan sidang yang menantinya,
membantu seseorang untuk memohon sesuatu pada ALLAH. Sementara sidang
atas amal-ibadah mereka saja belum tentu mereka tangani. Sebaik apapun
manusia, sealim apapun seorang kiai, pasti pernah berbuat salah. Dan
salah itu harus mulai mereka pertanggung jawabkan, ketika orang terakhir
yang mengantar jenazah melangkah 7 langkah dari makam. Bagaimana mereka
mau mendoakan kita, sedang mereka sendiri sibuk menjawab pertanyaan
malaikat kubur.
Perumpamaan orang berdo'a dengan
orang yang tenggelam di sungai, sangat tidak relevan. Ini masalah yang
berbeda, meski sama-sama meminta bantuan. Kecenderungan masyarakat awam
adalah menganggap suatu media untuk berdo'a sebagai zat yang mengabulkan
do'a. Dan hal ini kembali ke masalah ziarah kubur untuk berdo'a.
Bukankah banyak kasus, orang awam yang berziarah dan berdo'a di makam
para wali atau kiai yang dituakan. Saat do'anya dikabulkan, biasanya
mereka menyebut " ini semua karena berdo'a di makam wali A atau Kiai ini
" bukan " Ini semua berkat ALLAH, Doa saya dikabulkan. " inilah yang
ditakutkan Muhammadiyah. Begitupun dengan orang tenggelam atau sakit,
saat berhasil selamat " Terima kasih atas bantuannya, kalau bukan
karenamu, mungkin saya sudah mati " Hal ini menafikan adanya campur
tangan ALLAH SWT dalam menyelamatkan kita. manusia yang membantu, hanya
media/perantara, bukan penyelamat.
Hal-hal di atas adalah sebagian
keresahan yang saya rasakan dari banyak kejadian yang saya alami.
Perbedaan NU-Muhammadiyah serta organisasi lainnya hanya pada tingkatan
AMALIAH-nya saja, bukan pada tataran TAUHID, jadi seyogyanya para pemuka
NU-Muhammadiyah tidak perlu memperuncing. Kenapa kita tidak bisa
bergandengan tangan, untuk saling introspeksi diri dan menguatkan demi
ISLAM. Seprti di bagian awal " Perbedaan dalam ISLAM adalah Rahmat ",
tinggal bagaimana kita menyikapinya. Daripada sibuk menyamakan hal itu,
kenapa gak kita berdakwah ke dalam, memperkuat sendi-sendi dalam
kehidupan beragama kita, agar kita tidak makin jauh terpecah belah.
" Kita hanya tahu golongan A itu
kulitnya saja, pun dengan Golongan A hanya tanhu golongan B kulit
luarnya. Kenapa kita berselisih sesutau yang masih satu tauhid. Bukankah
masih banyak orang yang segolongan dengan kita, kurang dalam memahami
golongan yang dianutnya" mari bersatu untuk saling mendalami AL ISLAM.
Beda faham, selama sholat masih menghadap kiblat, membaca apa yang
diajarkan rasul dan mengakui bahwa rasulullah Muhammad sebagai nabi dan
rasul akhir zaman adalah satu saudara, saudara seiman.
Bagaimana kita mau berukhuwah dengan pemeluk agama lain, sementara sesama muslim saja, ukhuwah islamiyahnya lemah. Masih suka mencap golongan A KAFIR, Golongan B Munafik. Itu semua adalah domain KUASA ALLAH. DOMAIN KITA HANYALAH BERUSAHA BELAJAR DAN MENGAMALKAN APA YANG KITA YAKINI, BUKAN MENGHAKIMI KEYAKINAN KELOMPOK LAIN.
Menurut AA GYM " DAKWAH UNTUK
MENGAGUNGKAN ALLAH SWT, BUKAN MENGAGUNGKAN DIRI/MADZHAM-nya ATAUPUN
PESANTRENNYA. Kalau MAU DAKWAH, JANGAN LAGI MENGAGUNGKAN DIRI,
MEMPERKAYA DIRI dan segala sesuatu yang bersifat duniawi. "


Tidak ada komentar:
Posting Komentar